Tuesday 15-09-2026

BPS Buka-Bukaan Metodologi Penyusunan Desil pada DTSEN

  • Created Sep 15 2026
  • / 337 Read

BPS Buka-Bukaan Metodologi Penyusunan Desil pada DTSEN

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) disusun dari integrasi tiga sumber data utama. Dari ketiga basis data tersebut, tingkat kesejahteraan keluarga kemudian diestimasi menggunakan metode Proxy Means Test (PMT) berdasarkan sejumlah karakteristik sosial ekonomi, lalu diperingkat dan dikelompokkan ke dalam sepuluh desil.

 

Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data BPS, Setia Pramana, mengungkapkan bahwa DTSEN pada awalnya dibangun dari integrasi Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), dan Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE). Basis data tersebut kemudian diperkaya dengan berbagai data administratif dan disinkronkan dengan data kependudukan dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). Berbagai informasi sosial ekonomi yang terhimpun dalam DTSEN tersebut selanjutnya digunakan dalam penyusunan pemeringkatan desil.

 

Setia menjelaskan bahwa desil pada dasarnya merupakan pemeringkatan tingkat kesejahteraan keluarga. Karena data pendapatan tidak tersedia, BPS menggunakan estimasi pengeluaran sebagai dasar untuk menyusun pemeringkatan tersebut.

 

"Salah satu yang bisa diranking adalah pengeluaran. Kenapa tidak pendapatan? Karena kita tidak memiliki data pendapatan. Sehingga kita lakukan (estimasi) pengeluaran. Dari data pengeluaran tersebut kita bisa lakukan perankingan, asumsinya bahwa yang rankingnya dengan pengeluaran satu, dua, dan sampai ke atas itu nanti terkait dengan kondisi ekonominya," jelas Setia dalam Diskusi Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan, pada Jumat (11/09).

 

Setia melanjutkan, estimasi pengeluaran dilakukan menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT). Model PMT dibangun menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) sebagai data training, yang memuat informasi pengeluaran sekaligus berbagai karakteristik sosial ekonomi keluarga.

 

Setia menjelaskan bahwa model yang telah terbentuk kemudian diterapkan untuk mengestimasi pengeluaran per kapita setiap keluarga berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi yang tersedia dalam DTSEN.

 

"Bagaimana memprediksi pengeluaran per kapita, dari sebuah keluarga berdasarkan karakteristik-karakteristik yang ada di keluarga tersebut", ungkap Setia.

 

Hasil estimasi pengeluaran tersebut selanjutnya digunakan untuk menyusun pemeringkatan tingkat kesejahteraan keluarga. Keluarga diurutkan dari tingkat kesejahteraan relatif terendah hingga tertinggi, kemudian dikelompokkan ke dalam sepuluh desil.

 

Namun, Setia mengakui bahwa proses estimasi tersebut tidak sepenuhnya terlepas dari kemungkinan error sehingga evaluasi akan terus dilakukan, baik dari sisi metodologi maupun evaluasi di lapangan.

 

“Kami evaluasi ada dua. Model itu kita evaluasi secara statistik, kami evaluasi juga ke lapangan,” jelas Setia.

 

Lebih lanjut, Setia mengatakan model yang digunakan akan terus disempurnakan untuk meningkatkan kualitas estimasi. Namun menurutnya, akurasi estimasi juga sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan. Oleh karena itu, data perlu terus dimutakhirkan agar dapat mencerminkan kondisi yang sebenarnya saat ini.

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First